![]() |
| Dokumentasi Komite Budaya |
Kegiatan yang berlangsung ini mengusung misi edukasi sejarah, konservasi budaya, dan lingkungan, serta diikuti oleh sekitar 80 peserta lintas generasi dan komunitas. Bahkan, terdapat peserta yang datang jauh-jauh dari Kota Bandung untuk mengikuti acara ini. Tampak hadir jajaran pelajar, mahasiswa, masyarakat umum, hingga para tamu undangan terhormat seperti perwakilan Pakarang Adat, Mojang Jajaka Kota Tasikmalaya, serta Duta Hijab Tasikmalaya.
Rangkaian acara diawali dengan prosesi Kirab/Lalampahan Awal menuju portal utama situs dengan diiringi musik tradisi dogdog dan angklung dari komunitas Ruas Katresna, disambut dengan penyematan Geulang Tridatu sebagai penanda kebersamaan dan simpul spiritual. Sebelum memasuki area situs, para peserta melakukan terlebih dahulu prosesi susuci di sumber air Cikahuripan yang ada di lokasi situs. Acara kemudian dibuka secara khidmat dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, disambung penjelasan latar belakang program Gentra Loka oleh Ketua Komite Budaya DKKT, Kang Cevi Whiesa Manunggaling Hurip.
Ketua Pelaksana Kegiatan sekaligus seniman Tasikmalaya, Teh Nananisa, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh elemen yang hadir.
“Kami mengucapkan terima kasih yang mendalam dan selamat datang di ruang sakral peradaban kita. Ngariksa Kabuyutan bukan sekadar ritual seremonial, melainkan panggil nurani untuk merawat ingatan sejarah dan mempertautkan kembali keterikatan manusia dengan akar budayanya. Kehadiran lintas generasi di sini adalah bukti bahwa api kesadaran menjaga warisan leluhur masih menyala terang di Kota Tasikmalaya, sekaligus menjadi penegas komitmen kita bersama dalam menjaga kekhusyukan dan kelestarian kawasan Situs Lingga Yoni Indihiang dari aktivitas di sekitarnya,” ujar Teh Nananisa.
Sebagai bentuk penajaman edukasi, Tim Ahli Cagar Budaya Kota Tasikmalaya sekaligus Juru Pelihara Situs di bawah naungan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Barat, Ibu Henli, memberikan pemaparan historis dan filosofis mengenai nilai penting cagar budaya tersebut. Dalam penjelasannya, beliau menyampaikan bahwa simbolisme Lingga dan Yoni merupakan penyatuan dua energi kehidupan, keselarasan antara maskulinitas dan femininitas, penciptaan, serta kesuburan alam yang harus dijaga keseimbangannya.
Kemegahan budaya semakin terasa dengan diiringi musik tradisi dogdog dan angklung dari komunitas Ruas Katresna, dilanjutkan dengan panjatan doa Rajah Buana Larang Mantra Gayatri yang dipimpin oleh Kang Cevi bersama Kang Angga Bhatara serta prosesi hening kontemplasi (ngahening) bersama Arini D. Jayanti.
Prosesi Ngabiséka (prosesi susuci situs) dipimpin oleh Kang Cevi Whiesa dengan melibatkan seluruh peserta yang turut mensucikan dan memercikkan air ke batu Lingga Yoni. Dilanjutkan dengan Ngalarung Sasajén oleh Kang Cacang DKKT yang juga melibatkan seluruh peserta sebagai lambang ungkapan rasa syukur Tritangtu di Buana. Rangkaian kegiatan diakhiri dengan aksi nyata konservasi lingkungan berupa penanaman pohon (melak tangkal) dan aksi bakti lingkungan (bebersih situs) Menariknya, para peserta juga berinisiatif membawa bibit tanaman sendiri untuk ditanam di sekitar area situs sebagai simbol kepedulian terhadap kelestarian alam.
Langkah ini menjadi penegas komitmen Komite Budaya DKKT dalam mewujudkan ruang pemuliaan situs sejarah yang tidak hanya berhenti pada selebrasi, namun mewujud dalam aksi pemeliharaan yang berkelanjutan. *** (Arini)

