masukkan script iklan disini
![]() |
| Ilustrasi: Artificial Intelegence |
Salah satu indikator bangsa yang telah mencapai puncak tertinggi peradaban adalah dimilikinya pengetahuan tentang ruang astronomi, dan menariknya bangsa Nusantara telah menjalankan pengetahuan itu jauh sebelum zaman modern.
Dari pengetahuan itu bukan hanya soal penciptaan berbagai inovasi teknologi tetapi juga bagaimana menjadi kemampuan untuk menyadari hubungan diri dengan ruang kesemestaan—mikrokosmos dan makrokosmos.
Bulan sebagai salah satu pengisi tata surya memiliki keistimewaan tersendiri bagi manusia Sunda—mereka tahu bahwa kehadiran bulan sangat mempengaruhi kehidupan di muka bumi; misal konversi energi dan titik penanggalan laku ritual.
Dalam kebudayaan masyarakat Sunda, terdapat sebuah kebiasaan ketika malam bulan purnama yaitu nyawang bulan, laku penukaran energi yang dikemas dalam hal sederhana; nyékér dan bermain-main di bawah terang bulan.
Mungkin orangtua kita tidak tahu penjelasan transfering energi itu secara ilmiah tetapi mereka bisa merasakan tanpa perlu divalidasi oleh berbagai teori.
Sayangnya, laku nyawang bulan saat ini sudah banyak ditinggalkan. Komite Budaya Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya melalui Gentra Loka berupaya mengembalikan laku kebudayaan itu. Setidak-tidaknya, untuk kembali mengenal kebiasaan orangtua yang telah lama dilakukan. Sampai jumpa!
Salam hangat,
Ketua Komite Budaya Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya


