Sebuah Pengantar, Gentra Loka Vol 6: Ngariksa Kabuyutan Lingga Yoni Indihiang

KOMITE BUDAYA
Kamis, 23 Juli 2026
Last Updated 2026-07-23T17:41:08Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini
Lingga yoni Indihiang, restorasi oleh Artificial Intelegence (AI)

KOMITEBUDAYADKKKT.ONLINE — Sama halnya seperti budaya di berbagai penjuru dunia, masyarakat yang mewarisi peradaban Nusantara—Indonesia yang kita menjadi bagiannya saat ini, memiliki berbagai upacara sebagai salah satu pola kebudayaannya.

Secara morfologi, istilah upacara terdiri dari dua suku kata yakni upa dan cara; upa berarti kecil dan cara berarti jalan, aturan, atau sistem dalam melakukan atau membuat sesuatu. Maka istilah upacara dapat diartikan sebagai cara kecil dalam memperingati sesuatu, atau sebut saja laku simbolik yang dilakukan oleh sekumpulan orang. Seperti halnya di masa kini, setiap Senin pagi kita melakukan upacara bendera merah putih sebagai simbol penghormatan terhadap bangsa dan negara.

Manusia Sunda di masa lalu, menempatkan hutan, bukit, atau gunung sebagai ruang suci; sumber kehidupan yang telah memasok berbagai kebutuhan hidup sehari-hari, terutama air. Manusia Sunda juga mengibaratkan gunung sebagai sosok orangtua (kabuyutan) yang memberikan cinta kasih kepada anak cucunya. Maka jelas sebagai anak yang beradab, barangtentu kita harus menghormati orangtua kita tanpa ada pamrih; kita ada karena mereka ada—hana nguni hana mangké, tan hana nguni tan hana mangké (ada dahulu ada sekarang, tidak ada dahulu tidak akan ada sekarang).

Maka dalam pola kebudayaannya, manusia Sunda menjadikan gunung sebagai tempat belajar berbagai ilmu pengetahuan, yang di zaman ini bisa dikata setara dengan sekolah atau universitas. Kemudian gunung diistilahkan sebagai kabuyutan atau mandala. Lebih jauh, gunung menjadi simbol spiritualitas; gunung sebagai tempat belajar, belajar menjadikan manusia cerdas dan tercerahkan, dengan kecerdasan manusia dapat mengenali keberadaan Tuhan. Kendati menjadikan gunung sebagai tempat pasamoan, pertemuan, dan melakukan aktivitas, manusia Sunda tidak pernah merubah strukturnya secara signifikan, mereka lebih memilih apa adanya, menyatu dengan kealamian gunung itu sendiri. Yang ada, justru mereka membuat aturan tegas; gunung dibagi menjadi tiga jenis; larangan (yang sama sekali tidak boleh diganggu keberadaannya), tutupan (tempat konservasi dan cadangan sumber daya), dan tutugan atau baladeuhan (untuk dimanfaatkan sebagai lahan pertanian).

Sebenarnya masyarakat Sunda lebih familiar dengan istilah batu satangtung daripada lingga. Sebuah batu memanjang yang ditancapkan ke tanah atau disatukan dengan batu lain yang mewadahi setengah dari tinggi batu itu, yang kemudian disebut lingga yoni. Secara filosofis, lingga merupakan simbol energi maskulin atau laki-laki sementara yoni sebagai energi feminim atau perempuan, yang bila disatukan, terhubung, terjadi sebuah hubungan, maka kedua energi tersebut akan melahirkan kehidupan baru—seperti halnya laki-laki dan perempuan yang berhubungan badan maka kelak akan terlahir seorang anak. Dalam konteks tata ruang, lingga yoni adalah simbol dari kesuburan, lambang penciptaan, dan kemakmuran kehidupan. Maka jelas dibuatnya batu satangtung atau lingga yoni berikut dengan sebuah cerita yang terkandung di dalamnya—pengalaman empiris yang kemudian disimbolkan dalam sebuah bentuk (siloka). Kelak masyarakat Sunda menyebut batu satangtung atau lingga yoni sebagai 'tempat tunda alaeun carita pikeun cokot sampeureun jaga'. Adanya batu satangtung atau lingga yoni merupakan bukti nyata bahwa leluhur bangsa ini begitu arif dan bijaksana, bagaimana mereka menyampaikan pesan mendalam dengan pola yang sangat sederhana. Cukup dengan meletakkan sebuah batu. Tidak lebih. Hal itu menjadi bukti bahwa dahulu, di tempat itulah terjadi sebuah cerita peradaban yang luhung. 

Sebegitu beruntungnya kita dilahirkan di bumi Indonesia. Tasikmalaya. Tempat di mana leluhur kita mempersiapkan segalanya untuk keberlangsungan hidup kita hari ini. Lingga yoni Indihiang menjadi bukti bahwa kita mewarisi peradaban tinggi, hanya mungkin kita tidak menyadarinya atau bahkan tidak mau ambil peduli soal itu. Sebab realitas demikian, kita lebih bangga menganggung-agungkan leluhur bangsa lain ketimbang mereka, leluhur kita yang jelas-jelas menjadikan kita ada saat ini, di sini, sekarang.

Saat ini, lingga yoni Indihiang terkepung ancaman geografis. Di sekelilingnya, eksploitasi hutan tak mengenal kata libur. Di satu sisi kita memang tidak bisa sepenuhnya menyalahkan, eksploitasi dilakukan untuk memenuhi hajat hidup orang banyak tetapi di sisi lain, di sana ada sebuah nilai penting yang tidak boleh lelah untuk dijaga. Apalagi lingga yoni Indihiang adalah situs sejarah paling tua yang ada di Kota Tasikmalaya. Ngariksa Kabuyutan hadir sebagai cara kecil atau upacara untuk menjaga keutuhan nilai itu, baik secara historis ataupun filosofis. Kendati statusnya kini telah menjadi Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) tetapi bukan berarti keberadaan lingga yoni sepenuhnya aman. Melalui kegiatan ini sejatinya kita akan menggemakan suara, bahwa Tasikmalaya telah melupakan salah satu bagian akar penting dari sejarah.

Maka, Tuan dan Puan yang berkenan mengikuti kegiatan Ngariksa Kabuyutan adalah orang-orang pilihan—yang dipanggil oleh nuraninya sendiri, kembali mengenali rumahnya; tempat selama ini menjalani kehidupan. Puji syukur pantas dipanjatkan kepada Tuhan atas segala kedamaian, kemakmuran, dan keberkahan, yang sampai detik ini masih mengelilingi kita. Mari dengan sekuat tenaga kita rawat kehidupan berikut kebaikan di dalamnya. Setiap dari kita tidak terlahir dari kehampaan, ada cerita dan tugas yang dibawa untuk dituntaskan. Mari kita ikuti kegiatan ini dengan ikhlas dan bahagia. Rahayu.

Salam hangat,
Ketua Komite Budaya
Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl