![]() |
| Koko Koswara (Mang Koko). Foto: Istimewa |
Oleh : Nazarudin Azhar
Bicara tentang tokoh seni Sunda, terutama seni karawitan, kita tentu tak bisa untuk tak menyebut nama Mang Koko. Seorang tokoh besar di bidangnya, yang telah melahirkan ratusan lagu-lagu karawitan yang hingga saat ini masih populer dan digemari masyarakat Sunda. Proses kreatif seorang H. Koko Koswara, nama lengkapnya, terentang sejak tahun 1940-an hingga menjelang wafatnya tahun 1985. Ini kalau merujuk pada saat didirikannya Kanca Indihiang yakni tahun 1946 di Indihiang, Tasikmalaya. Kanca Indihiang (selanjutnya disebut KI) adalah ‘lingkung seni’ pertama tempat Mang Koko berkreasi. Meskipun bukan mustahil, bahwa sebelum mendirikan KI ini, Mang Koko telah pula menciptakan lagu.
Pada rentang masa yang demikian panjang ini, KI merupakan salah satu fase penting pada perjalanan kreatif Mang Koko. KI adalah grup kesenian yang bidang garapannya berbentuk Sekar Jenaka, yakni jenis kesenian yang menampilkan lagu-lagu vokal dengan iringan kecapi, suling, dan rebab atau biola. Penyajian antara lagu yang satu dengan yang lainnya diselingi humor (jenaka). Dan lagu-lagunya sendiri kebanyakan mempunyai kadar humor yang tinggi. Grup ini berdiri dalam dua periode, yakni periode pertama di Indihiang dari tahun 1956 sampai 1950 dan periode kedua di Bandung, dari tahun 1950 sampai 1955 (Tardi Ruswandi; Koko Koswara, Pencipta Karawitan Sunda yang Monumental; 2000)
Lagu-lagu yang diciptakan oleh Mang Koko untuk KI ini, nyaris semuanya merupakan sketsa sosial masyarakat, dengan kata lain, lagu-lagu yang berangkat dari fenomena keseharian masarakat Sunda. Melalui lagu-lagu KI kita bisa ‘melihat’ bagaimana perkembangan situasi dan pola pikir masyarakat Sunda (terutama dari kalangan biasa) pada zamannya. Ini tentu saja menjadi satu hal yang sangat berharga ketika kita mendengar dan menyimak lagu-lagu KI, di samping kita akan mendapatkan humor-humor segar yang ‘nyunda’. Sebut saja misalnya lagu yang berjudul Beus Kota. Lagu yang diciptakan di Bandung pada periode kedua KI (kalau mengingat bahwa hingga saat inipun di Tasik belum ada beus kota) ini, merupakan salah satu lagu yang memotret situasi ketika beus kota mulai menjadi alat transportasi tumpuan masarakat, yang disajikan dengan gaya humor yang sangat plastis. Dengarlah misalnya bagaimana Mang Koko mendeskripsikan Beus Kota:
Beus kota, pabuis masieup kota,
ngagerung ngahiung,
garandang paranjang,
naekna ngantay, panjang ngagebay,
sakapeung ribut, ngagonyok di panto
tempatna parebut, anu sué camberut, dst.
Suasana yang sangat hidup ini merupakan situasi yang mulai lumrah pada saat itu. Orang berebut naik bis kota hingga késang jeung PPO seungitna meleding, saking sesaknya. Bahkan dalam lagu ini pun diceritakan kemacetan yang bikin stres. Ingatan kita mungkin akan langsung melayang pada kota Bandung tahun 1950-an (bagi yang tidak mengalami, mungkin bisa baca buku Haryoto Kunto tentang Bandung tempo doeloe). Benarkah pada tahun-tahun itu Bandung sudah macet hingga bikin pusing?
Tatang Benyamin, salah seorang putra Mang Koko suatu ketika mengatakan bahwa banyak orang yang percaya yén Mang Koko téh punya intuisi seorang peramal! Melalui lagu-lagunya seniman besar ini seakan tengah meramalkan keadaan masyarakat yang akan datang. Untuk membahas yang ini, tentu harus dalam tulisan lain yang berbeda yang berangkat dari pengamatan intens pada seluruh karya-karya Mang Koko.
Jadi, macet pada zaman harita mungkin belum, kalau pun ada, ya belum separah sekarang. Tapi kalau bicara masalah kriminalitas dalam bus, tentu sejak lama sudah ada dan ini pun tak lepas dari pengamatan Mang Koko, yang diselipkan dalam lagu Beus Kota seperti demikian:
Nini-nini ngajerit aya nu nyiwit,
suku pabeulit, dompetna leungit,
rék nuduh teu wani copétna molotot.
Tentu saja tidak banyak seniman yang kepekaan atau intuisi kreatifnya seperti Mang Koko, yang mampu menghadirkan sesuatu yang lumrah (dianggap biasa) di masyarakat, menjadi sebuah karya yang otentik dan segar. Dan sebagaimana dalam lagu-lagu KI lainnya, dalam lagu Beus Kota ini pun Mang Koko menyelipkan humor segar, yang akan langsung mengingatkan kita pada seorang yang (mungkin) datang dari pasisian, dan pertama naik bis kota, seperti:
Beus kota, beus kota,
Mang Nano suka, calikna sila,
leungeun duanana muntang pageuh pisan
bari babacaan, asa kapal udara,
ngadius mangprung di kota Bandung, dst.
Menikmati lagu-lagu dalam KI ini, kita seakan-akan tengah membuka-buka album lama yang di dalamnya terdapat begitu banyak peristiwa yang tersaji dalam warna-warna yang masih menawan. Lagu-lagu yang diciptakan oleh Mang Koko sendiri, kebanyakan membawa empati kita langsung pada suasana yang akrab dan riang. Ini berbeda sekali dengan lagu-lagu yang rumpakanya ditulis oleh orang lain, semisal yang ditulis Wahyu Wibisana, RAF, atau Deddy Windiagiri, dll., yang kebanyakan ngagalindeng dan romantik. Hampir di semua lagu-lagu KI, Mang Koko menghadirkan humor yang cerdas tentang suasana keseharian orang Sunda. Misalnya lagi dalam lagu Jangkrik, Ondangan, Batik, Hayam Jago, atau Maén Bal.
Bahkan dalam lagu yang bertema ‘penyuluhan’ pun, Mang Koko tidak pernah kehilangan rasa humornya. Misalnya dalam lagu Koperasi yang konon dibuat bertepatan dengan Hari Koperasi sekitar tahun 1953, dalam lagu tersebut ada bait-bait yang sangat menggelitik, seperti demikian:
Tinimbang paké awuntah
duit dipaké teu uni
mending diatur sing tabah
disimpen di koperasi.
Cari pekerjaan euweuh diploma
arék tani sawah henteu boga
jadi tukang copét sieun pulisi
mun nganggur nagara rugi.
Jadi bandar oray sieun dipacok
dagang peuyeum teu payu sok haseum
rek jadi penyanyi sora ngagerem
direkam listrikna pareum.
Tampaknya tak ada satu pun dari setiap peristiwa kehidupan ini yang tak tertangkap sisi humornya oleh Mang Koko. Ia seorang seniman yang telah mencapai tingkatan tertinggi dalam kesenimanan, sebagaimana seorang pemeluk teguh agama mencapi nilai sufistik dalam hidupnya. Ini mungkin tidak akan terdengar berlebihan bila kita sering membaca humor-humor sufi, di mana setiap persoalan hidup selalu bisa dijadikan bahan untuk nyeungseurikeun diri sorangan, yang tujuannya tentu saja untuk mencapai kearifan. Humor pada hakikatnya hanya bisa lahir dari hati yang nyaman dan tidak didera krisis eksistensial. Lagu-lagu seperti Beus Kota, Koperasi atau yang lainnya dalam KI, lahir dari kematangan seorang yang mengenal betul dunianya serta lingkungan sekelilingnya. Ia sama sekali tidak berpretensi untuk membuat orang terpingkal-pingkal hingga lupa diri, tapi cukup dengan seuri konéng karena si orang tersebut merasakan kebenaran humor itu, bukan sebagai orang kedua atau orang ketiga, tapi sebagai orang pertama yang mengalami langsung peristiwanya.
Mengenai ‘orang yang mengenal betul dunianya’, simaklah lagu Maén Bal atau Badminton dari grup KI ini. Liriknya yang bernas tentang bermain bola tidak akan pernah bisa ditulis dan terdengar ‘bernyawa’ seandainya hanya dilakukan oleh seorang suporter umpamanya. Untuk dua bidang olahraga ini Mang Koko memang seorang atlet handal. Bahkan untuk urusan sepakbola ia adalah pemain petingan yang tendangannya terkenal bangbaraan. Ia pernah menjadi anggota Persatuan Sepak Bola Tasik (PSTS, sekarang bernama Persitas téa). Pengalaman berebut bola di lapangan jadi sumur ide yang benar-benar berlimpah ketika ia menulis lagu ini. Bahkan, meskipun liriknya sangat main-main, tapi bisa dijadikan rujukan tentang pemikiran seorang seniman sekelas Mang Koko yang ternyata sangat peduli pada permainan yang fairplay, wasit yang harus tegas dan ulah beurat sabeulah agar peureup tidak méngpar kana sirah. Atau saran agar pejabat turun langsung biar seponsor ngantay nyumbang. Dan tak lupa juga bahwa ternyata sejak lama Indonesia suka ribut dalam masalah skorsing, ribut masalah bonus dan banyak hal yang memalukan lainnya, yang ‘diceritakan’ dengan gaya humor khas Mang Koko dalam lagu ini.
***
Sebagai seorang seniman, Mang Koko tidak hanya piawai dalam bermain-main di wilayah nada dan rumpaka (lirik). Ia juga mampu mengaransir sebuah lagu dengan sangat luar biasa. Dalam KI ini umpamanya, ia mampu menghadirkan suasana sebagaimana diceritakan rumpaka dengan petikan kacapi dan suling serta rebabnya. Di sini fungsi instrumen tidak hanya sebagai pengiring, tapi juga (terkadang) menjadi bagian dari humor itu sendiri. Gaya seperti ini pada tahun-tahun kemudian, bisa kita temukan dalam kacapi jenaka Asep-Yana dari Singaparna, bila mereka sedang mentas selalu mengeksplorasi bunyi kecapi untuk memperkaya unsur humor. Atau dalam Jenakaan Jentreng Jamret-nya Utun-Dekok.
Melalui KI inilah sebenarnya, Mang Koko mulai melakukan pembaharuan dalam seni karawitan. Di antara sesuatu yang baru pada zaman harita, adalah ketika Mang Koko (bahkan telah ia mulai sejak tahun 1930-an) menerapkan tangga nada diatonis pada kacapi sehingga lahir istilah “Kacapi Modern”. Keberanian semacam ini, hanya akan dilakukan oleh orang yang benar-benar menguasai bidang yang digelutinya, dan tentunya siap untuk mempertanggungjawabkannya. Apalagi, Mang Koko tidak hanya menguasai waditra Sunda saja, tetapi juga waditra lain yang datangnya dari Barat. Seperti gitar dan biola. Ketika sekolah di MULO, Mang Koko tercatat paling jago ngahitar. Bahkan ketika di Bandung, ia pernah bergabung dengan “The Yop Hawaiian Band”. Kepiawaiannya dalam memainkan waditra yang beragam ini secara tidak langsung turut memperkaya kreativitasnya dalam penggarapan berbagai jenis karawitan Sunda, seperti dalam mengaransir lagu-lagu kawih (simaklah sebagai contoh lagu Reumis Beureum dina Eurih), atau dalam menggarap grup Gamelan Mundinglaya, Gending Karésmén, dll.
Gambaran seperti itulah yang kemudian akan lebih memperkaya imajinasi kita ketika menyimak lagu-lagu dalam KI. Bahwa ketika lagu mengalun, kita tengah mendengar napas panjang seorang pembaharu dalam karawitan Sunda. KI tidak dengan sendirinya hadir dalam khazanah kebudayaan orang Sunda. Sebuah proses yang panjang yang sudah pasti melelahkan telah ikut pula mewarnainya, dan proses seperti ini jelas menuntut kesabaran selain kesadaran yang utuh sebagai orang yang merasa bertanggung jawab penuh dalam ngahirup-huripkeun seni Sunda. Sikap yang agaknya sedikit tersisihkan oleh beberapa kawan penulis yang telah lulus dari jurusan karawitan perguruan tinggi seni, yang lebih bermimpi memakai seragam Pemda, pasedek-sedek dalam gerbong penjaringan calon CPNS, dan meninggalkan gerbong lain yang nyaris kosong yang dulu jadi tempat Mang Koko memeras energi kreatif sepanjang hidupnya.***
Penulis adalah sastrawan Sunda


