masukkan script iklan disini
![]() |
| Enay Sunarya (kiri) bersama Asep Sunandar Sunarya (kanan). Foto: Istimewa |
Oleh: Cevi Whiesa
Enay Sunarya lahir di Tasikmalaya, 3 Juli 1945. Ketertarikannya pada dunia kesenian sudah tampak sejak kecil, hal itu didorong karena kakaknya, Darso Gunawidjaja, yang merupakan seorang dalang wayang golek. Panggung pagelaran kakaknya itulah yang memperkenalkan Enay pada seni padalangan.
Masa kecil Enay telah diisi dengan berbagai proses berkesenian—bukan hanya pada seni padalangan, tetapi juga pencak silat, dogdog, dan kesenian tradisional lainnya. Setelah beranjak remaja, ketertarikannya pada seni Sunda semakin tinggi, Enay kemudian bergabung dengan sanggar seni Wargi Saluyu, Paseh, Kota Tasikmalaya. Di sanalah ia lebih serius mengembangkan minat dan bakatnya, hingga kemudian memutuskan untuk konsentrasi pada seni padalangan. Jejak kecintaan pada wayang golek di masa kecilnya ia lanjutkan dengan keteguhan dan keyakinan.
Keseriusan mendalami seni padalangan ditunjukkan Enay dengan pergi menemui sang maestro wayang golek Abeng Sunarya di Jelekong, Bandung, untuk berguru. Enay meyakini bahwa Abeng Sunarya akan menghantarkan dirinya pada pemahaman tentang padalangan secara utuh dan total. Kendati saat itu dirinya hampir ditolak karena Abeng Sunarya sudah tidak lagi menerima murid baru, tetapi kemudian Abeng menerimanya lantaran ada kesamaan nama belakang Sunarya. Hal itu tentu sebuah kesempatan istimewa bagi Enay, sehingga ia tak sedikitpun menyia-nyiakan kepercayaan itu.
Setelah sekian waktu berguru pada Abeng, Enay mendapat pengakuan istimewa di mata pimpinan Pusaka Giri Harja tersebut. Suatu waktu Abeng mengumpulkan lima orang anaknya yang merupakan dalang, yaitu Ade Kosasih Sunarya (Giri Harja 2), Asep Sunandar Sunarya (Giri Harja 3), Ugan Sunagar Sunarya (Giri Harja 4), Iden Subasrana Sunarya (Giri Harja 5), dan Agus Supangkat Sunarya (Giri Harja 6).
Kelimanya dikumpulkan lantaran satu alasan. Kehadiran Enay Sunarya. Abeng mengatakan kepada lima anaknya bahwa Enay telah diangkat menjadi anaknya sejak saat itu. Abeng pun meminta kepada kelima anaknya itu untuk mengakui dan memperlakukan Enay sebagai saudara. Selain itu, Abeng juga secara langsung memberikan nama grup wayang golek untuk Enay yaitu Giri Tunggal.
Sekitar tahun 1980-an, di tengah redupnya eksistensi wayang golek di masyarakat, Enay kembali ke Tasikmalaya untuk melanjutkan proses kreatif berkeseniannya. Kembalinya Enay ke Tasikmalaya menjadi babak baru perjalanan wayang golek di Priangan Timur. Krisis eksistensi wayang golek pada masa itu menjadi tantangan tersendiri bagi Enay, sebab mengembalikan minat masyarakat pada wayang golek tak semudah membalikan telapak tangan. Spirit Enay bagaikan nyala pelita di tengah kegelapan malam, dengan berbagai upaya, ia terus berusaha mengembalikan kecintaan masyarakat pada wayang golek.
Perjalanan panjang dan sulit dalan menempuh ilmu padalangan yang dirinya alami bukan hanya menjadi spirit untuk melestarikan wayang golek, tetapi juga menjadi tekad untuk melahirkan regenerasi dalang di Tasikmalaya.
Sepanjang perjalanan karirnya sebagai dalang, Enay telah beberapa kali mengikuti binojakrama padalangan yang kala itu diadakan secara berjenjang, mulai dari tingkat kota/kabupaten, provinsi, hingga nasional. Di tingkat kota, Enay tercatat pernah beberapa kali menjadi juara satu, dua, dan tiga, begitu pula di tingkat provinsi dirinya pernah menjadi perwakilan Tasikmalaya.
Totalitasnya dalam mengembangkan padalangan di Tasikmalaya berbuah kepercayaan manis, Enay sempat didorong untuk menjadi Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Tasikmalaya, tetapi dirinya menolak karena ingin lebih konsentrasi membawa wayang golek dari panggung ke panggung.
![]() |
| Enay Sunarya bersama cucunya, Fariz Opick Sunandar. Foto: Istimewa |
Enay begitu aktif dari satu panggung ke panggung lainnya, bahkan dirinya pernah mengalami jadwal manggung penuh selama dua bulan tanpa jeda. Dengan cakupan area pertunjukan Tasikmalaya, Bandung, Ciamis, Banjar, dan Cilacap. Enay juga kerap mengisi pertunjukan di TVRI dan beberapa radio, diantaranya Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD) Kabupaten Tasikmalaya, dan Radio Galuh Tasikmalaya.
Memasuki tahun 1990an, Enay membuka diri bagi siapapun yang ingin belajar padalangan. Kendati, metode yang ia bangun tidak baku; mengharuskan murid-muridnya mondok di padepokan. Enay lebih memilih cara ajar yang fleksibel—tidak harus murid yang datang menghampirinya. Bahkan pertemuan di sela-sela pementasan pun ia jadikan sebagai ruang ajar. Puluhan orang pernah dia sentuh dan berikan pengetahuan tentang padalangan yang dimilikinya, terutama di wilayah Tasikmalaya dan Priangan Timur.
Selain kepada puluhan dalang di Priangan Timur, spirit dan pengetahuannya itu juga diwariskan pada cucunya yaitu Fariz Robiansyah. Sejak kecil, Fariz telah mendapat transfer ilmu padalangan dari kakeknya itu, hingga akhirnya Fariz melanjutkan proses belajarnya dengan berguru kepada Opick Sunandar Sunarya (Mekar Arum 2 Giri Harja).
Selain Fariz, Yopi Firmansyah yang masih memiliki ikatan saudara juga turut mewarisi ilmu padalangan langsung dari Enay, hingga saat ini Yopi masih terus mengamalkan pengetahuan itu bersama anaknya, mengurus grup yang bernama Sabda Pertala.
Enay juga pernah menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) di DPLAD Tasikmalaya mengurusi bagian peralatan, tetapi dirinya memilih pensiun muda dan mengabdikan diri sepenuhnya untuk seni pedalangan. Dirinya meninggal dunia pada tahun 2023 dan dimakamkan di Kota Tasikmalaya.
Kiprah dan jasa Enay Sunarya dalam mengembangkan seni padalangan di Tasikmalaya sangatlah besar. Kehadiran Enay sangat memberikan pengaruh kembalinya eksistensi wayang golek yang pernah meredup pada tahun 1980an. Berbagai prestasi dan penghargaan juga telah ia dedikasikan untuk tanah kelahirannya. Walaupun kini banyak yang tidak pernah tau tentang perjuangannya itu, tetapi sosok Enay akan tetap abadi dalam sejarah kesenian kota ini. ***



