Kibar Budaya 2026: Upaya Merawat Masa Depan Anyaman Bambu Situ Beet Kota Tasikmalaya

KOMITE BUDAYA
Minggu, 19 Juli 2026
Last Updated 2026-07-19T16:32:53Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini

KOMITEBUDAYADKKKT.ONLINE — balik ketenangan Kampung Situ Beet, Kelurahan Cipari, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, tersimpan kisah panjang tentang salah satu warisan budaya yang pernah menjadi kebanggaan masyarakat Kota Tasikmalaya. Kampung ini dikenal sebagai sentra kerajinan anyaman bambu yang telah menghidupi banyak keluarga dan menjadi bagian dari identitas budaya Kota Tasikmalaya. Namun, di tengah laju pembangunan dan perubahan zaman, keberlangsungan tradisi tersebut kini menghadapi tantangan yang semakin besar.


Salah satu persoalan utama adalah semakin terbatasnya ketersediaan bahan baku bambu. Alih fungsi lahan menjadi kawasan permukiman maupun aktivitas lainnya menyebabkan rumpun-rumpun bambu yang dahulu mudah dijumpai kini semakin berkurang. Kondisi ini membuat para perajin harus mendatangkan bahan baku dari daerah lain dengan biaya yang lebih tinggi, sehingga turut memengaruhi keberlanjutan usaha mereka.


Tantangan berikutnya adalah regenerasi. Semakin sedikit generasi muda yang memilih menekuni profesi sebagai pengrajin anyaman bambu. Perubahan orientasi pekerjaan dan keterbatasan nilai ekonomi dari kerajinan tradisional menjadi faktor yang mendorong mereka mencari mata pencaharian lain. Situasi ini menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui ajakan mencintai tradisi, tetapi juga membutuhkan ekosistem yang mampu memberikan kesejahteraan bagi para pelakunya.


Keberlangsungan kerajinan anyaman bambu juga memerlukan dukungan yang menyeluruh, mulai dari ketersediaan bahan baku, akses pembiayaan, penguatan pemasaran, inovasi produk, hingga pendidikan dan regenerasi perajin. Upaya pelestarian budaya akan lebih bermakna apabila berjalan seiring dengan penguatan ekonomi masyarakat yang menjadi penjaga tradisi tersebut.


Situ Beet memberikan pelajaran bahwa kebudayaan tidak hanya hidup melalui festival, pameran, atau seremoni. Kebudayaan akan tetap bertahan apabila mendapat perhatian nyata melalui kebijakan yang berpihak kepada para pelaku budaya dan lingkungan yang menopangnya.


Melalui penyelenggaraan Kibar Budaya DKKT 2026 di Situ Beet pada 25 Juli 2026, Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya (DKKT) ingin mengangkat kembali perhatian publik terhadap potensi sekaligus tantangan yang dihadapi sentra anyaman bambu ini. Festival ini diharapkan menjadi ruang apresiasi, edukasi, dan kolaborasi untuk memperkuat kesadaran bahwa pelestarian budaya tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan dukungan berbagai pihak.


Beragam sajian akan ditampilkan dalam festival ini, mulai dari pertunjukan seni tradisi, musik, tari, teater, sastra, seni rupa, hingga penampilan kreasi seni masyarakat Mangkubumi yang merepresentasikan kekayaan budaya Kota Tasikmalaya. Kibar Budaya juga menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengenal, mengapresiasi, dan meneruskan nilai-nilai budaya lokal di tengah derasnya arus perubahan zaman.


Situ Beet bukan hanya menyimpan sejarah kerajinan bambu, tetapi juga menjadi simbol penting bahwa identitas budaya memerlukan perhatian dan tindakan bersama. Menjaga anyaman bambu berarti menjaga pengetahuan, keterampilan, dan ingatan kolektif masyarakat Tasikmalaya agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl