masukkan script iklan disini
Rajah dalam pandangan umum
Bagi sebagian masyarakat, Rajah sering dianggap sebagai jimat yang dipercaya memiliki kekuatan magis di dalamnya. Bentuknya bervariasi tergantung peruntukannya. Ada yang untuk tolak bala, ada yang untuk kesembuhan, dan berbagai peruntukannya lainnya. Kepercayaan terhadap Rajah menjadi sesuatu yang membuat sebagian masyarakat ini menggeser tingkat kepercayaannya kepada Tuhan dengan benda-benda tersebut.
Selain diketahui sebagai bentuk jimat atau benda, Rajah juga terdapat bentuk lain yaitu lisan. Rajah ini sering dimunculkan dalam kegiatan adat saat memulai dan mengakhiri, yang dipercaya untuk menolak bala dan memperlancar kegiatan adat.
Karena keyakinan akan kekuatan magis itulah yang dipercaya menjadi salah satu bentuk syirik. Menganggap Rajah sebagai sebuah jimat dimana manusia bisa bergantung pada hal tersebut dan memiliki kuasa serupa dengan Tuhan.
Selain diketahui sebagai bentuk jimat atau benda, Rajah juga terdapat bentuk lain yaitu lisan. Rajah ini sering dimunculkan dalam kegiatan adat saat memulai dan mengakhiri, yang dipercaya untuk menolak bala dan memperlancar kegiatan adat.
Karena keyakinan akan kekuatan magis itulah yang dipercaya menjadi salah satu bentuk syirik. Menganggap Rajah sebagai sebuah jimat dimana manusia bisa bergantung pada hal tersebut dan memiliki kuasa serupa dengan Tuhan.
Dalam praktiknya, seringkali Rajah memang dibentuk dari pengharapan dan perlindungan dari hal yang tidak baik yang bertransformasi dalam bentuk benda dan lisan, seperti yang telah disinggung sebelumnya. Tapi karena pada dasarnya manusia hanyalah manusia, batasan antara bendawi dan Keilahian ini sering tidak terlihat karena tipis dan sulit dibaca. Akhirnya banyak dari masyarakat yang melabeli Rajah sebagai bagian bentuk dari Kesyirikan.
Rajah dalam masyarakat Sunda
Dalam kepercayaan masyarakat Sunda, keselarasan antara alam, manusia, dan Tuhan adalah pilar dari keselamatan. Manifestasi tersebut berwujud dalam berbagai ritual dan adat di masyarakat. Karena sejatinya, masyarakat Sunda memiliki kepercayaan ketika kita menghormati Alam, maka Alam akan melindungi kita.
Contohnya seperti perilaku masyarakat Kampung Naga yang sangat terikat dengan Alam sebagai rumah, kegiatan adat yang banyak mengaitkan diri pada alam, dengan menjaga batas yang mereka yakini.
Perwujudan menghormati Alam tersebut tercermin dalam Rajah. Masyarakat Sunda menggunakan Rajah bukan sebagai jimat atau kesyirikan, namun sebagai bentuk dari Do'a kepada Pencipta tentang memohon pertolongan dan bersandar padaNya.
Masyarakat Sunda tradisional jarang sekali menyebut Tuhan sebagai Allah (karena saking agungnya). Mereka menggunakan konsep ketuhanan yang lebih filosofis dan menyatu dengan alam, seperti sebutan Sang Hyang Kersa (Yang Maha Kuasa) dan Batara Tunggal (Dzat Maha Tunggal). Ini merupakan bentuk Ajrih (Hormat) dimana Tuhan diyakini kasat mata, namun Maha Hadir.
Karena masyarakat Sunda tradisional menggunakan konsep Ketuhanan Tunggal, maka rapalan Rajah ini lebih terdengar seperti do'a, perantara akan harapan pada Tuhan Yang Maha Esa.
Manifestasi Leluhur untuk Menjaga Keseimbangan
Pamali, Leuweung Larangan, Leuweung Tutupan, Sedekah Bumi, dan istilah adat lain yang ada merupakan cara leluhur menetapkan batas. Bagaimana akhirnya nilai filosofi dari hal-hal ghaib menjadi nyata ketika diteliti dari sisi sains. Dimana ekosistem kadang "harus tidak tersentuh manusia" untuk recovery. Bagaimana akhirnya sedekah bumi menjadi sebuah kesadaran akan kembalinya manusia selalu menerima dari alam kembali ke dalam bumi. Dimana tanah yang dipijak adalah bagian kasih dari Alam untuk peradaban.
Di era hutan dan alam digerus, kesadaran ini yang selalu dibangun leluhur yang dibungkus dalam adat. Manifestasi tersebut membentuk upacara, pertunjukan, kesenian, dan kegiatan lain di masyarakat.
Rajah merupakan gambaran bagaimana Leluhur tetap menjunjung dan bergantung kepada Dzat Yang Satu, dengan segala yang telah diberkahiNya. Meminta pada yang seharusnya. Menghormati semua yang dititipNya.
Rajah akhirnya mampu menjembatani sebuah harapan dari ketidakberdayaan manusia kepada Sang Hyang Batara Tunggal. Bentuk hakikat hamba yang bergantung pada penciptanya.***

