masukkan script iklan disini
![]() |
| Sasajén pada Gentra Loka Vol 4. Foto: Komite Budaya/Arini |
Barangkali Anda, yang pernah mengikuti gelaran Gentra Loka pernah terbersit satu pertanyaan; untuk apa sasajén dibuat, apa pula fungsinya? Ini persis seperti bertanya mengapa bangsa kita di masa lalu sangatlah maju. Sastra Jén Rahayu Ning Ratu Pangruwat Ing Diyu merupakan kitab tan aksara (kitab tanpa aksara) yang menggunakan bahasa kebuanaan (kebumian), sasajén tidak meminjam aksara atau bahasa dari bangsa manapun. Ia adalah ayat-ayat hidup hasil daya cipta (pikir) Sang Maha Kuasa. Sebagai contoh yang mudah untuk memahaminya, perhatikan air pada sasajén lalu sadari; siapa yang mampu menciptakan air selain Tuhan atau kelapa atau seluruh benda yang ada pada sasajén itu? Dengan kesadaran penuh semuanya adalah sastra Tuhan, sementara manusia tak lebih hanya mampu menatanya sedemikian rupa.
Maka sasajén sama sekali tidak berhubungan dengan kepercayaan sebuah golongan atau syarat sebuah laku ritual, ia adalah media pengantar setiap pribadi manusia untuk membangkitkan kesadarannya—semua yang ada di dalam sasajén telah menjadikan diri kita hari ini; tanah, air, api, angin yang disimbolkan melalui beberapa jenis benda. Lantas mengapa sasajén harus dibuat dalam sebuah perhelatan seni? Gentra Loka hadir tidak hanya menyajikan santapan virtual tetapi juga mengajak setiap apresiatornya untuk memasuki ruang meditatif—refleksi sederhana yang memberikan dampak.
Gentra Loka berupaya membangun ulang pola pemahaman mengenai sasajén, sebab selama ini sasajén acap kali dianggap sebagai benda persembahan bagi mahluk tak kasat mata atau dikait-kaitkan dengan berbagai laku klenik. Padahal sasajén merupakan sabda yang berupa teguran serta anjuran dari alam semesta kepada manusia untuk mencapai derajat tertinggi. Maka kami mempercayai Gentra Loka sebagai ruang kontemporer dapat menjadi kanal berbagi pengetahuan yang efektif.


