masukkan script iklan disini
![]() |
| Prosesi Ngarumat Hulu Cai oleh Komite Adat Budaya DKKKT. Foto: Istimewa |
TASIKMALAYA — Bertepatan dengan Hari Bumi Sedunia 2026 pada Rabu, 22 April 2026, Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya menggelar ritual Ngarumat Hulu Cai dan hiburan pentas seni di kawasan Gunung Kokosan, Kelurahan Cibunigeulis, Kecamatan Bungursari.
Di titik sumber air atau gedong cai yang memasok air untuk wilayah Kota dan Kabupaten Tasikmalaya, gerakan ngarumat hulu cai digelar sebagai upaya nyata menjaga sumber air, lingkungan hidup, dan ekosistem hulu yang semakin terancam.
Upaya pelestarian hulu dan konservasi sumber daya air menjadi krusial di tengah tekanan terhadap lingkungan.
Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Candra Negara yang hadir dalam gelaran ini menegaskan bahwa menjaga kelestarian alam tidak bisa dilakukan secara instan. Ia mengajak masyarakat menjadikan gerakan seperti ngarumat hulu cai Tasikmalaya sebagai kebiasaan, mulai dari tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan sungai, hingga melakukan penanaman pohon di wilayah hulu.
Diky juga menyinggung nilai kearifan lokal melalui amanat Galunggung yang mengibaratkan pemimpin seperti air yang mengalir pada jalurnya. Filosofi ini mengandung pesan bahwa manusia harus selaras dengan hukum alam dan menjaga keseimbangan lingkungan. Ketika ekosistem rusak, maka dampaknya akan kembali dalam bentuk bencana lingkungan.
Ancaman tersebut bukan tanpa dasar. Kerusakan di kawasan hulu, deforestasi, kebiasaan membuang sampah, serta pembangunan yang tidak terkendali menjadi pemicu utama banjir, longsor, dan sedimentasi. Dalam konteks ini, ngarumat hulu cai Tasikmalaya hadir sebagai bagian dari mitigasi bencana dan langkah awal dalam memperkuat ketahanan lingkungan masyarakat.
Hal senada disampaikan Wakil Bupati Tasikmalaya, Asep Sopari Al Ayubi. Ia mengapresiasi langkah konkret tersebut dan mendorong seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Kabupaten Tasikmalaya untuk mengadopsi gerakan serupa, dengan melibatkan pihak-pihak yang memiliki kapasitas di bidang lingkungan.
“Kami siap bersinergi dengan Pemerintah Kota Tasikmalaya agar aksi seperti Ngarumat Hulu Cai ini dapat terus berlanjut secara berkesinambungan,” katanya.
Sementara itu, Ketua DKKT Kota Tasikmalaya, Tatang Pahat, menjelaskan bahwa pemilihan Gedong Cai, Gunung Kokosan, didasarkan pada perannya sebagai salah satu titik hulu air yang vital. Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi pemantik bagi masyarakat di berbagai wilayah untuk turut menjaga lingkungan masing-masing.
Lebih jauh, ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara Pemerintah Kota dan Kabupaten Tasikmalaya dalam menjaga ketersediaan air serta keseimbangan ekosistem, khususnya di kawasan Priangan Timur.
Rangkaian Ngarumat Hulu Cai
Acara dimulai dengan konvoi peserta, pejabat pemerintah, dan para bintang tamu dari Seniman Sunda Bangkit (SSB) menggunakan Ngulisik dari Gedung Creative Center (GCC) Dadaha yang berakhir di Situ Gede. Sajian musik dan perbincangan hangat di Situ Gede berlangsung hingga pukul 12.00 siang. Kemudian dilanjutkan ke Bale Kota Tasikmalaya, hingga akhirnya pada pukul 14.00 tiba di lokasi acara Gunung Kokosan, Cibunigeulis.
Gelaran Ngarumat Hulu Cai pun berlangsung yang kemudian dilanjutkan dengan ritual penanaman 10.000 pohon. Di malam hari, acara dilanjutkan dengan berbagai penampilan seni dari 7 komite yang bernaung di DKKKT, pentas seni dipungkas oleh para pelawak SSB, yakni Oni Sos, Ogi Sos, Ari Sos, Anton Abox, Ki Daus, Aep Bancet, Aman, Amin, Koh Ganjar, dan Mas Teko. ***


