masukkan script iklan disini
| Founder Wanoja Sukapura, Silvy Agustri Permana bersama para narasumber diskusi. Foto: Komite Budaya |
TASIKMALAYA — Kegiatan diskusi Refleksi Hari Kartini: Ruang Aman Perempuan Tasikmalaya yang digagas Wanoja Sukapura bersama Komite Budaya Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya berlangsung hangat dan penuh keakraban.
Digelar pada Jumat (24/4/2026) di Kopi Siloka 2 Indihiang, diskusi ini menghadirkan empat narasumber yakni aktivis pendidikan Fitri Najayanti, S.Pd., Dra. Elin Yuliani, M.Pd., Eva Nurhayati, S.Pd., dan Rika Rostika Johara, S.Psi., Cht.
Diskusi yang dipandu pegiat literasi Agus Salim Maolani ini mengalir dalam berbagai topik, dari mulai bagaimana memahami perempuan, hingga pentingnya pengetahuan akan keamanan digital bagi perempuan.
Founder Wanoja Sukapura, Silvy Agustri Permana mengatakan, kegiatan ini sebagai bentuk kehadiran perempuan Tasikmalaya dalam meja pemikiran yang kritis. Terlebih, perempuan Tasikmalaya hari ini kerap disuguhkan dengan berbagai fenomena yang tidak selayaknya terjadi, seperti kekerasan hingga pelecehan.
"Wanoja Sukapura hadir sebagai kawan berpikir para perempuan Tasikmalaya, dan kegiatan ini salah satu bentuk kehadiran kami dalam momentum Hari Kartini tahun ini," ujar Silvy.
Sementara itu, Ketua Komite Budaya DKKKT Cevi Whiesa menyebut, kolaborasi ini sebagai bentuk inklusifitas DKKKT terhadap komunitas lintas disiplin ilmu. Cevi menyebut, DKKKT akan senantiasa hadir sebagai mitra komunitas dalam mengaktivasi ruang publik.
"Kami sangat senang dapat berkolaborasi dengan Wanoja Sukapura, kegiatan semacam ini sangat penting untuk selalu hadir di tengah-tengah masyarakat, sebagai tawaran narasi dalam menyikapi berbagai fenomena yang terjadi," ujarnya.
Kegiatan ditutup dengan penampilan monolog oleh seniman Qeis Surya Sangkala, sebuah pementasan yang merepresentasikan kegelisahan perempuan hari ini. ***

