masukkan script iklan disini
Sampurasun!
Sudah bukan lagi waktunya ruang-ruang kebudayaan dibayang-bayangi narasi pesimistis, keterbelakangan, atau apapun itu yang menolak perubahan dan kemajuan. Disadari atau tidak, kalimat seperti "Seni Sunda mah tos pareum" merupakan racun paling nyata—seolah peradaban kita kaku dan terus berdiam diri.
Namun kita patut bersyukur, Kota Tasikmalaya dalam hal kesenian, memiliki sumber daya yang tidak kaleng-kaleng, sejumlah lompatan-lompatan dan inovasi kekaryaan terus mewarnai proses kreatif para seniman di kota ini. Salah satunya adalah Sanggar Seni Asta Mekar, kelompok musik yang mengawinkan alat musik tradisional dengan modern. Inovasi terbaru yang mereka buat dinamai Laras Jiwa, sebuah terapi berbasis harmoni nada. Anda sekalian harusnya penasaran dengan hal itu. Asta Mekar dengan inovasinya itu sudah mampu mengamalkan "Buhun Disuhun, Ngigelan Zaman".
Komite Budaya (Padalangan & Pertunjukan Rakyat) Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya (DKKKT) dalam gelaran Gentra Loka Vol 1 akan menghadirkan Asta Mekar, bukan hanya untuk bercerita mengenai garapannya kini tetapi juga perjalanan mereka selama ini. Perbincangan itu akan dikawani oleh budayawan Tatang Pahat yang juga Ketua DKKKT dan dipandu oleh Mukshy Arafah Sugandi.
Gentra Loka Vol 1 juga akan menampilkan pertunjukan seni wayang sekar oleh dalang cilik M Aqsha Mursyidan Usman, angklung buncis dari Lingkung Seni Pasir Kuntul, dan Tari Bhatara Gong dari siswa-siswi SMK Satya Bhakti.
Waktu: Sabtu, 31 Januari 2025
Tempat: Kopi Siloka, Jl. Brigjend Wasita Kusumah, Indihiang, Kota Tasikmalaya
Salam budaya!

